An Outward Looking Cooperative

Sukses KISEL, yang hingga 2019 menempati peringkat teratas 100 Koperasi Besar Indonesia dengan volume usaha mendekati Rp6 triliun, dibangun dengan kesadaran yang kuat bahwa koperasi adalah usaha modern.

CITRA koperasi Indonesia sedikit terobati ketika World Cooperative Monitoring–ebuah lembaga pemeringkatan koperasi dunia—mencantumkan Koperasi Telekomunikasi Selular (KISEL) pada urutan 94 di deretan 300 Koperasi Besar Dunia berdasar Turnover atas GDP per kapita.

Peristiwa itu membanggakan sekaligus menyentak kembali ingatan publik. Bahwa koperasi merupakan korporasi yang menjadi bagian dari tiga pelaku ekonomi penting negeri ini, di samping BUMN dan  BUMS. Jumlah koperasi Indonesia yang mampu bicara di pentas global memang masih minim.

Hadirnya KISEL di daftar Global List 300, seperti dicapai KWSG (Koperasi Warga Semen Gresik), membuat kita mampu tegak berhadapan dengan Singapura dan Malaysia, yang koperasinya lebih dulu memasuki pentas global. Sukses KISEL, yang hingga 2019 menempati peringkat teratas 100 Koperasi Besar Indonesia dengan volume usaha mendekati Rp6 triliun, dibangun dengan kesadaran yang kuat bahwa koperasi adalah usaha modern.

Kelahiran KISEL pada 1996, awalnya merupakan terobosan usaha para karyawan Telkomsel di beberapa wilayah kantor untuk membantu pertumbuhan perusahaannya. Belakangan, mereka dihimpun dalam satu wadah dengan nama Koperasi Telekomunikasi Selular atau akrab dengan nama KISEL 

Amalgamasi koperasi di internal Terkomsel itu di-support penuh oleh Telkomsel. KISEL bahkan jadi area karier bagi karyawan Telkomsel, sehingga susksenya memimpin KISEL bakal berimplikasi dengan jabatan dan karier berikutnya di Telkomsel. ”Perusahaan ingin koperasi tidak dikelola sambilan tetapi oleh mereka yang punya waktu dan fokus,” kata Ketua Dewan Pengurus KISEL, Suryo Hadiyanto.

Itu sebabnya modernisasi  manajerial di tubuh KISEL menjadi urgent. Setiap orang yang terlibat di dalamnya harus memahami bisnis yang tengah dijalani dan punya road map masa depan. “Karena itulah manajemen di Telkomsel memilih orang-orang terbaik dan harus melewati persetujuan direksi, untuk kemudian mengikuti pemilihan pengurus KISEL,” kata Suryo.

Sebagai perusahaan yang berada di tengah pusaran bisnis yang tengah ‘wow’ saat ini, yaitu era digital, posisi KISEL boleh dibilang on the right track. Bicara teknologi digital, mau tak mau kita harus berurusan dengan pihak asing, sebagai strategic partner global player,” tutur Suryo. Sebagai antisipasi atas maraknya berbagai pola bisnis era industry 4.0, KISEL memastikan siap berlaga. Karenanya, pihaknya tidak lengah dalam menyigi business process reengineering. “Dalam proses ini tiga hal yang secara rutin kita engineering yaitu people, procedure dan technology,” ujar Suryo Hadiyanto.●(Irm)

Share This: