“Ambu”, Kisah Ibu dan Anak Berlatar Belakang Budaya Baduy

Adegan film Ambu-Foto: Skytree Pictures.

JAKARTA—-Enam belas tahun yang lalu, Fatma (Laudya Cynthia Bella) meninggalkan kampungnya di Kawasan Baduy, Lebak, Banten karena cintanya pada seorang mahasiswa bernama Nico (Biam Wong).  Sayangnya, setelah anaknya dewasa rumah tangga mereka bubar, sang suami tidak bekerja lagi.  Fatma harus mencari nafkah dengan usaha kateringnya juga harus ditutup.

Fatma kemudian membawa anaknya Nona (Lutesha) yang masih duduk di bangku SMA ke kampung halamannya untuk menemuinya Ambu (ibu dalam bahasa Sunda halus) bernama Misnah (Widyawati).  Sekalipun ada penolakan dan amarah, tetapi dalam hati kecilnya Misnah masih menyayangi anaknya. 

Sementara di satu sisi ada aturan adat Baduy bahwa orang yang Sudha menikah dnegan orang luar, tidak dengan mudah kembali menjadi orang Baduy dan dianggap tamu, sekalipun kerabatnya.  Di si lain, Nona yang sangat terbiasa kehidupan Jakarta harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di kampung Baduy  tanpa listrik mulai merasakan tidak kerasan, sekalipun dia mempunyai  kawan pemuda setempat bernama Jaya (Andri Mashadi).

Nona berang ketika tahu bahwa mereka tidak hanya sementara pulang ke kampung ibunya, tetapi tinggal selamanya. Awalnya dia juga berang karena baru dikaish tahu bahwa dia sudah punya nenek.  

“Saya sudah lama kenal ibu, tetapi saya tidak tahu apa-apa tentang ibu!” teriak Nona.

Konflik segitiga antara Misnah, Fatma dan Nona begitu getir, hingga  belakangan diketahui penyebab utama Fatma ingin menetap di kampung ibunya.  Apakah hubungan mereka akhirnya menjadi cair? Skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena ini mengupasnya dan diekskeusi oleh Farid Dermawan dan Juru Kamera Yudi Datau tidak saja dengan dialog didominasi Bahasa Sunda, tetapi juga gestur dan ekspresi muka para pemainnya. Tentunya Widyawati harus diacungi jempol, tetapi pendatang baru Lutesha sebagai remaja milenial Jakarta, yang tidak mudah  menghormati adat istiadat begitu pas.

Film yang disutradarai oleh Farid Dermawan menyuguhkan panorama kampung Baduy (luar) yang eksotis dan ciamik menjadi salah satu kelebihan film ini. Film komersial pertama yang mengambil latar belakang suku Baduy dan melibatkan sejumlah warga setempat . Mudah-mudahan hal seperti ini juga diikuti oleh sineas lain dengan setting budaya lainnya. Musik tradisional dengan seruling, masak msih di tungku, lampu semprong hingga kolecer bambu (baling-baling) yang tingginya Sembilan meter memanjakan mata penonton.

Soundtrack yang dinyanyikan Widyawati bertajuk Semesta Pertamaku pas dengan film ini mampu membuat air mata menetes.

Hanya ibu yang mau memaafkan ketika hati Sudah tertutup dengan kemarahan. Narasi dari Lutesha begitu menyentuh dan menjadi pesan film yang layak ditonton oleh keluarga pada pertengahan Ramadan mendatang (Irvan Sjafari).

Share This: