Aktivis Lingkungan dari Bohorok Ciptakan Sedotan Bambu, Potensi Ekspor

Pembuatan Sedotan Bambu–Foto: Dokumentasi Pribadi.

BOHOROK—Prihatin terhadap semakin maraknya penggunaan sedotan plastik yang berdampak pada lingkungan hidup mendorong Arif Syahputra Hasibuan, seorang aktivis lingkungan dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mencari alternatif pengganti.  

Suatu ketika Arif dan  seorang  kawannya membeli sedotan bambu dari Bali (melalui online shop), yang membuat mereka tergerak membuat sendiri.  

Mereka membutuhkan waktu mencoba terus menerus mendapatkan bentuk yang pas sesuai dengan harapan mereka.  Kemudian mereka melibatkan seorang perajin di Bohorok, Kabupaten Langkat dan lima perajin di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

“Pengerjaannya masih manual dan buatan tangan (handmade). Tetapi dengan treatment, kami berupaya menjual bukan hanya sedotan bambunya saja, tetapi bagaimana kami memanfaatkan tanaman bambu di sekitar kami untuk bisa dibuat menjadi sedotan bambu secara manual dan sesuai dengan kemampuan para pekerja kami, mengingat kami belum mampu menyediakan mesin khusus,” tutur Arif kepada Peluang melalui e-mail, Kamis (23/5).

Workshop di Deli Serdang sendiri merupakan bagian dari lokasi Proyek Orangutan Haven. Menurut Arif, mereka mencoba mengajak masyarakat di Bohorok untuk juga bisa membuat sedotan bambu dengan panduan.

“Kami ingin mengedukasi masyarakat agar dapat menggunakan sedotan yang alami dan berasal dari alam dan tidak menggangu lingkungan. Bambu adalah tanaman yang sangat eco-friendly dan paling cepat tumbuh di dunia,” cetus Arif.

Dilirik Jepang dan Austria

Modal untuk pembuatan sedotan bambu lokal sekitar Rp3.000, dijual sekitar Rp6.000-Rp8.000 per batang sesuai dengan ukurannya. Sedangkan untuk ekspor, disesuaikan dengan permintaan (antara Rp10.000 hingga Rp20.000) karena permintaan khusus, misal dengan logo, pouch, dan sebagainya. Semua hasil dari penjualan ini ditujukan untuk pendidikan lingkungan dan Konservasi Orangutan Sumatera.

Menurut Arif, sekalipun masih baru dirintis sambutan pasarnya cukup baik. Beberapa orang dan restoran yang sudah memesan. Ada jual pembeli dari luar Sumatera, yaitu dari Pulau Jawa. Sebagian membeli sedotan sebagai kenang-kenangan untuk temannya.

Lanjut Arif pada 2019 ini, pihaknya akan memproduksi sekitar 15.000-20.000 batang untuk memenuhi permintaan dari Jepang. Selain itu, mereka juga menerima permintaan sampel dari Austria sebanyak 120 batang.

“Kami harap ini menjadi pintu masuk kami untuk menuju pasar Eropa. Untuk lokal, kami masih terus melakukan upaya sosialisasi dan promosi agar lebih banyak masyarakat yang aware terhadap penggunaan sedotan bambu dan hubungannya terhadap lingkungan,” tutur Arif.

Hygenis

Arif mengatakan pembuatan sedotan ini dilakukan dengan treatment khusus agar lebih tahan lama dan hygenis sebelum dipasarkan. Untuk berapa lamanya, memang sesuai dengan pemakaiannya.

“Paling lama kami sarankankan bisa dipakai sampai 3-5 bulan jika dibersihkan secara teratur setelah pemakaian. Kami juga menyediakan sikat pembersih sebagai alat pembersihnya,”  ujar Arif.

Agar lebih aman, pengguna dapat merendamnya dengan air panas sebelum pemakaian yang cukup sering. Setidaknya penggunaan sedotan bambu ini dapat dilakukan secara sendiri, tidak untuk penggunaan bersama.

Sedotan Bambu-Foto: Dokumentasi pribadi.

Beberapa orang membandingkan sedotan bambu dengan stainless. Keduanya baik, apalagi sedotan stainless bisa jauh lebih tahan lama dan mudah dibersihkan. Hanya saja pembuatan dari bahan stainless memiliki dampak kurang baik bagi lingkungan, proses produksinya, pabriknya, dan lain sebagainya.

“Sedotan bambu, jauh lebih mudah dan lebih eco-friendly jika kita menggunakan sedotan bambu,” pungkas dia (Irvan Sjafari).

Share This: