“Ajari Aku Islam”, Bawa Pesan Cinta dan Moral dengan Indah

Adegan “Ajari Aku Islam” foto: Joruneyofindonesa.

Hadirnya film Ajari Aku Islam pas dengan situasi carut marut situasi sosial di negeri ini, ketika persoalan SARA, kembali mencuat. Sebuah film yang sulit dikatakan film religi, lebih dekat dengan drama percintaan, tetapi tidak  mendayu-dayu berlebihan.  

Film besutan Deni Pusung memadukan kisah cinta dengan nilai-nilai Islam, dengan bijak berupaya dengan keras, tidak menyudutkan salah satu pihak, dengan setting kota Medan dengan panoramanya dan masyarakatnya yang memang sudah plural sejak masa kolonial. 

Tokoh utamanya seorang pemuda Kenny (Roger Danuarta) dari latar belakang budaya Tionghoa, keluarga penganut Konghucu jatuh hati pada pandangan pertama dengan Fidya (Cut Meyriska), gadis Melayu Muslim ketika sedang melakukan aksi mengumpulkan dana untuk korban bencana alam di jalan.  Jatuh cinta pada pandangan pertama hal yang biasa dalam film drama romantis, dari berbagai negara.

Sekalipun menyadari bahwa Kenny non muslim, Fidya tidak bisa mengingkari bahwa ia juga tertarik. Apalagi kemudian Kenny tertarik untuk mempelajari Islam. Cerita bergulir dengan munculnya tokoh lain, yaitu Chelsea Tan (Naomi JKT 48) perempuan yang dijodohkan keluarganya dengan  Kenny yang baru datang dari Paris, sementara Fidya juga punya tunangan pemuda muslim Fahri (Miqdad Addausy) yang baru pulang dari kuliah S-2 di Turki.

Sampai di situ kalau pilihan sutradara hanya dua kasih tak sampai atau memenangkan cinta kedua pasangan yang jurang perbedaannya begitu besar.  Namun cerita yang diangkat dari kisah nyata James Rianto, yang juga jadi produser film ini memberikan ending yang tidak bisa ditebak dan menghindari film ini menjadi romantis murahan atau sebaliknya menjadi film yang kontroversial, seperti filmnya Hanung Bramantyo, Cinta Tapi Beda, beberapa tahun silam.

Dari segi wajah Islam, sikap ayah dari Fidya yang tidak terburu-buru untuk resisten menghakimi Kenny dan Fahri menjadi karakter yang menarik.  Dialog antara Kenny dan Fahri adalah adegan yang terbaik, rivalitas memperebutkan hati Fidya, tetapi bersahabat.  “Mengapa kamu mendukung aku, padahal aku adalah rival kamu memperebutkan Fidya? Kamu tidak cemburu? ” tanya Kenny heran. Fahri dengan tenang dan sejuk menjawab. “Cemburu,  iya. Tetapi aku ingin membantu kamu menemukan Islam”

Sebaliknya resistensi dari keluarga Kenny lebih besar dan tidak bijaksana, terlebih dari ayah Chelsea, seorang mafia yang sudah lama jadi back up, salah satu bisnis Kenny dan teman-temannya judi bola online.  Kegalauan Kenny untuk memilih jalan hidupnya  juga daya tarik film ini.

Kritik film ini ada pada sinematografi yang biasanya tidak jauh dari FTV, padahal plot ceritanya kuat dari awal hingga akhir.  Sementara panorama kota Medan mulai dari masjid raya bisa disajikan lebih menarik.  Untungnya Deni apik menggarap elemen antar agama, mulai dari upacara Kongucu dan juga aturan masuk masjid harus kepas sepatu.  Hingga unsur sinematografi menjadi imbang.

Dari departemen kasting film ini terlalu menjual sensasi Roger Danuarta dan Cut Meyriska yang kemudian menjadi suami isteri di dunia nyata. Padahal tokoh Fahri dan Chelsea juga menarik dieksplorasi. Begitu August Melaaz kembali menjadi tokoh anatagonis menjadi begitu basi. Pemeran ayah Fidya, yang juga bintang sinetron Asrul Dahlan juga memainkan karakter yang sama. 

Yang justru tampil mencuri perhatian adalah Naomi JKT 48, sosok perempuan yang ingin mandiri, tetapi sebetulnya rapuh dan egois.  Secara keseluruhan Ajari Aku Islam, terobosan yang menyegarkan pada 2019 ini, film yang membawa pesan dengan balutan moral yang indah dan tidak menghakimi (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...