Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar Untuk Gebrak Pakumis Libatkan Koperasi

Ahed Zaki

 

Kabupaten Tangerang meski terletak di hidung Jakarta sisi barat tidak berarti menjadi ikut segemerlap ibu kota. Kantong-kantong kumuh dan kemiskinan tetap ada. Melihat kondisi ini wajar jika Ahmed Zaki Iskandar, Bupati Tangerang terpacu untuk membenahi. Terlebih ia mempimpin di tanah kelahirannya, lazim sekali mengubah wajah daerahnya tak tampak kumuh lagi. Mengingat masih ada 6,68% penduduk miskin dari populasi sekitar 3,3 juta jiwa menjadi perhatiannya.

Jurus andalan pria 42 tahun ini adalah Gebrak Pakumis alias Gerakan Bersama Rakyat Atasi Permukiman Padat, Kumuh, dan Miskin. Pria lulusan Victoria University Australia ini menjelaskan, ada tiga tipologi kawasan permukiman di wilayahnya, yakni kawasan nelayan pesisir utara, kawasan pertanian, perkotaan dan industri. Imbuh penerus sang ayah (Ismed Iskandar) yang terbilang sukses pimpin Tangerang dua periode, semua tipe itu memiliki kesamaan, yakni sanitasi yang buruk dan kualitas rumah tidak layak. Tepatnya dari 407 kawasan padat, kumuh, dan miskin terdapat 13.950 keluarga tinggal di kawasan permukiman kumuh. Adapun yang kualitas bangunan rumah belum permanen sebanyak 81.440 unit, serta keluarga yang tinggal di bantaran sungai, situ, dan pantai sebanyak 5.283 keluarga.

Alokasi anggaran penunjang suksesnya program berasal dari APBD dan corporate social responsibility (CSR). Tangerang yang kawasan industri dan memiliki banyak perusahaan tak sulit untuk dapatkan program CSR. Proyek yang dilaunching pada 2011, hingga 2012 telah membedah 1.000 unit rumah di lima kawasan kumuh berpenduduk berpenghasilan rendah.

Yang menarik dari keterlibatan program ini, koperasi juga ambil bagian. Bahkan kemudian ambil peran dominan. Koperasi Benteng Mikro Indonesia (BMI) Tangerang namanya. Oleh koperasi yang memiliki cabang di seluruh Banten ini dengan anggota sekitar 170 ribu ini sudah melaksanan pembangunan sanitasi dan bedah rumah mencapai ribuan unit.

Melihat peran koperasi yang multi fungsi yakni tidak hanya sektor bisnis, sehingga Zaki mengaku sangat konsen dan respek terhadap koperasi. Bukti perhatiannya melalui Dinas Koperasi telah mencabut ijin usaha 5 koperasi yang tak aktif. Kepada yang berprestasi, pihaknya berjanji lebih megupayakan perhatiannya. Politisi Partai Golkar yang pernah duduk di Komisi I DPR periode 2009-2014 ini akan mengusulkan agar koperasi diberi bantuan sama dengan bank, tentang besaran bunganya, karena ia juga membayar pajak layaknya bank.

’’Tentu program kami bukan hanya membedah rumah, juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar memiliki ketahanan ekonomi. Nah, soal tersebut bisa melalui koperasi. Toh mereka bisa mengakomodir, baik secara ekonomi, pendidikan maupun kesehatan,” pungkas pria kelahiran 14 Desember 1973 ini.

Program membangun kesadaran warga untuk hidup bersih, kata Zaki, tidak mudah. Terlebih rata-rata masih hidup di bawah standar makmur. Tapi alumni Victoria University Australia 1988  ini punya jurus andalan untuk mengatasi kendala sanitasi itu, Ia menggagas  Gebrak Pakumis  alias  Gerakan Bersama Rakyat Atasi Permukiman Padat, Kumuh, dan Miskin.  Ini adalah  salah satu program pemerintah Kabupaten Tangerang di sektor peningkatan infrastruktur perumahan.  Tahun lalu program ini merehab 1.000 unit rumah kumuh di kawasana padat kecamatan. Hingga 2018,  Zaki  menargetkan hingga  tak ada lagi kawasan padat kumuh dan miskin di wilayah Kabupaten Tangerang. Yuk kita dukung cita-cita mulia suami Tri Hesti Yulianti ini. (Saw)

Share This: