Ahmad Mawardi, Perjalanan Panjang Bisnis Kreatif Tanaman Artifisial

JAKARTA—Silaturahim bisa mendatangkan inspirasi untuk menjadi wirausaha.  Awal 2008, ketika berkunjung  ke rumah seorang kawannya, sewaktu tinggal di Umbulharjo, Yogyakarta, Ahmad Mawardi melihat  ada sekelompok orang  membuat pohon artifisial.

Tanaman artifisial adalah tanaman buatan yang dibuat oleh tangan tangan kreatif dengan menggunakan batang asli sebagai kayunya dan daun plastik sebagai daunnya.

“Dari hasil karya tersebut, saya perhatikan dan sampailah pada kesimpulan bahwa saya harus bisa membuat pohon artifisial tersebut,” ungkap Ahmad ketika dihubungi Peluang lewat WhatsApp, Rabu (16/9/20).

Selang beberapa waktu, Ahmad mengajak dua orang temannya membantu membuat pohon artifsial, di kos kosan tempatnya tinggal. Mereka berhasil membuat sekitar 5 pohon artifisial dengan beragam bentuk dan variasi daun.

Mereka kemudian menawarkan produk tersebut ke kalangan teman, kolega hingga mengunjungi hotel. Hasilnya hanya terjual dua pohon. Bisnis terhenti karena Ahmad fokus pada pekerjaannya dan 2010 pulang ke NTB.

Sejak berada di Bima NTB, Ahmad mulai mengembangkan usaha ini sedikit demi sedikit, menggunakan batang kayu sentigi sebagai kayu hingga dibuat mirip bonsai.

“Beberapa karya sudah di hasilkan dan alhamdulillah memuaskan. Sampai akhirnya saya memasarkan sendiri produk tersebut,” tutur dia.

Selama  2012 – 2015 Ahmad melanjutkan pendidikannya di UGM. Pada 2015-2016  dia bekerja di perusahaan di kelapa gading, namun diamundur  karena tidak tahan dengan jam kerja di Jakarta.

Ahmad kemudian memutuskan serius menjalanan bisnis tanaman artifisial  pada 2016.  Mulanya hanya melayani orderan secara daring dengan modal awal  Rp2 juta.  Dia baru punya toko di PGC  Cililitan dua bulan lalu.

Awalnya produknya pohon-pohon kecil tidak laku karena dia jual lagi dengan promosi ke teman-teman. Namun semenjak ada website yang SEO akhirnya dia dapat banyak permintaan bukan hanya bikin pohon tetapi menjalar ke proyek-orye yang lain.

“Saya baru dapat orderan pertama akhir 2017 sekitarRp 2-5juta, kemudian meningkat pada 2018 sampai 2020 dengan kisaran Rp100 juta.  Harga tanaman artifisial bervariasi bervariasi mulai dari Rp500 ribu –Rp 10 juta per pohon,” terang dia, yang kini punya brand Mantika Florista.

Pandemi Covid-19 lanjut dia, berdampak pada usaha, cuma tidak terlalu signifikan. Biasanya dalam sebulan ada 5-10 proyek. Kini setelah Covid-19 dalam sebulan bisa 3-5 proyek. karena pasarnya cukup luas, mulai dari rumah, kantor, kafe, restoran, mal, apartemen dan sebagainya.

Ke depan, Ahmad berencana melakukan diversifikasi usaha mantika Florista. Dulu saya tahunya pohon artfisial, kini bisa buka sub usaha buat taman, vertical garden, tanaman rambat, tanaman juntai hingga jasa pembersihan tanaman artifisial.

“Sub bisnis ini yang akan saya kembangkan ke depannya dengan meng-hire banyak orang,” pungkas Ahmad seraya mengatakan mempunyai website https://mantikacorp.blogspot.com/ (Irvan Sjafari).

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *