Agustitin Setyobudi, Semangat Koperasi ada di Ramadan

Agustitin Setyobudi-Foto: Dokumentasi Peluang.

JAKARTA-—Penasehat Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) Profesor Dr H Agustitin Setyobudi, MM menyampaikan Ramadan memiliki unsur-unsur yang penting  dan memiliki persinggungan dengan koperasi. Secara lahiriah Ramadan ditandai tradisi mengencangkan ikan pinggang, tentunya juga dengan lebih intensif membaca dan mengamalkan Quran.

Unsur-unsur Ramadan yang bersinggungan dengan koperasi adalah kerja keras dan kerja cerdas, solidaritas dan kesetiakawanan sosial, serta mempererat kerja sama, dengan tujuan mewujudkan ikhtiar  manusia membangun kesejaterahannya,” ungkap Guru Besar Ekonomi Koperasi dari STAI Acprilesma Indonesia ini dalam keterangannya yang diperoleh Peluang, Jumat (22/5/20)

Menurut Mantan Ketua KKGJ ini Koperasi memiliki keunggulan yang tidak dimiliki korporat swasta maupun pemerintah dalam sejumlah hal, salah satunya adalah keberlanjutan sosial dan lingkungan.

“Keberlanjutan sosial dan lingkungan, menguatkan koperasi sebagai salah satu perangkat merajut relasi erat antar manusia (habluminannash) yang adil dan ramah sosial dan sejahtera,” ucap Agustitin.

Lebih lanjut, pria kelahiran Trenggalek 8 Agustus 1960 ini mengatakan, Koperasi memiliki daya tahan lebih dibanding perusahaan swasta.

Daya tahan koperasi tercipta berkat arah usahanya yang tak sekedar mengejar keuntungan, namun juga berorientasi pada keberlanjutan sosial dan lingkungan.

“Karakter itulah yang tak dimiliki perusahaan swasta yang alasan adanya hanya untuk memenuhi pundi-pundi laba,” imbuh dia.

Koperasi berbasis pada orang (people based) menjadikannya lebih mawas diri. Berbeda dengan itu, perusahaan swasta yang berbasis modal (capital based) cenderung bertindak atas dasar orientasi keuntungan.

“Orientasi yang jika tidak terkendali akan potensial terjerembab pada keserakahan, hal yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun,” jelas dia.

Dalam rangka mengejar laba sebesar-besarnya, perusahaan swasta dapat berlaku sewenang-wenang.  Mereka pelit dalam menggaji karyawan dibandingkan dengan laba yang dihasilkan. Imbasnya, rasa kepemilikan karyawan terhadap perusahaan dan kinerjanya  menjadi rendah.

Selain koperasi, sebenarnya ada beberapa model lain dengan karakter yang sama. Sebutlah model kewirausahaan sosial (socialentrepreneurship) yang dimotori oleh Bill Drayton.

Kewirausahaan sosial adalah bagaimana memecahkan masalah sosial dengan cara entrepreneurial. Caranya, dimulai dengan mengorganisir modal sosial dalam komunitas dan kemudian memobilisasi sumber daya mereka.

Di Indonesia ada sosok dokter Gamal Albinsaid, yang memperoleh penghargaan dari Pangeran Charles  di Inggris atas kinerjanya.

Di Malang, Jawa Timur, ia membangun klinik asuransi berbasis sampah. Masyarakat membayar layanan dokter Gamal dengan sampah rumah tangga mereka.

Sedikitnya ada tiga manfaat klinik asuransi tersebut: 1). Kesehatan masyarakat terjaga meski mereka tak secara langsung mempunyai uang; 2). Sampah-sampah mereka terkelola dengan baik dan memberi nilai tambah ekonomi; dan 3). Dokter Gamal tetap memperoleh jasa dari layanan kesehatan yang diselenggarakannya.

Ini merupakan  bukti koperasi memang multidimensi. Koperasi bukan melulu lembaga beranggota orang-perorang yang bersama-sama ingin melek finansial, melainkan juga melek sosial dan lingkungan. Hanya koperasi yang (idealnya) mampu seperti itu.

“Semoga Ramadan kali ini terus memberi inspirasi insan gerakan koperasi untuk terus menebar manfaat dengan caranya yang khas,” tutup Agustitin (Irm).

Share This:

You may also like...