62.000 Ton Jagung Bulog Turun Mutu

Isu kelangkaan jagung mencuat dengan kedatangan 29 peternak ayam broiler dan layer ke kantor Perum Bulog, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Mereka, peternak yang berasal dari beri daerah di Pulau Jawa, mengeluhkan kesulitan mendapatkan jagung. Padahal, jagung merupakan bahan baku pokok untuk pembuatan pakan ayam.

Selain itu, mereka juga mengeluhkan turunnya harga ayam hidup atau live bird pada tingkat peternak yang menyentuh Rp12.000—Rp13.000/ekor. Harga tersebut jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) pada tingkat peternak sebesar Rp18.000/ekor. Padahal, peternak harus mengeluarkan ongkos produksi rerata Rp16.500/ekor.

Terkait dengan jagung, Perum Bulog menyebut, kesulitan peternak ayam broiler dan layer dalam mendapatkan jagung segera akan tertanggulangi. Soalnya, menurut Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, Bulog masih punya stok jagung sekitar 62.000 ton yang tersebar di gudang Bulog Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten. Stok ini  memang belum terserap oleh para peternak ayam.

Awalnya tersedia sekitar 200.000 ton. Jagung sebanyak itu didatangkan dari Brazil, akhir tahun 2016. “Sampai hari ini yang belum terserap itu masih 62.000 ton,” kata Djarot. Stok  jagung yang belum terserap oleh para peternak ayam karena komunikasi yang tidak lancar antara para peternak dan Bulog. Lantaran lama tak terjual, mutu jagung pun merosot. Artinya, potensi kerugian Bulog makin besar jika stok itu tertahan makin lama.

Diakui, sebagian stok jagung itu sudah mengalami penurunan mutu. Tak Cuma petani, Bulog pun sebetulnya berkepentingan mempercepat pendistribusian stok yang numpuk di berbagai gudang itu. “Kalau kita tidak segera bergerak, akan semakin banyak yang turun mutu. Itu kan potensi kerugian. Sebelum merugi lebih besar, kita akan coba salurkan,” ujarnya.

Kemitraan Bulog dengan peternak ternyata tak selamanya berjalan mulus. Peternak membeli jagung milik Bulog dengan dua tolok ukur, yaitu kualitas dan harga. Di sisi lain, Bulog juga harus mengakomodir kepentingan petani lokal. Penjualan produksi petani jagung lokal agak seret. “Kita sudah berjalan tapi enggak bisa secepat yang diharapkan. Di awal target produksi 24.000 ton. Sampai hari ini baru 400 ton yang sudah dijual, jadi memang agak seret,” tuturnya.

Untuk itu, kata Direktur Komersial Bulog Febriyanto, Bulog terus berupaya keras agar kebutuhan jagung peternak dapat terpenuhi dengan kualitas yang baik. Namun, untuk bisa mendistribusikan dengan lancar, juga bukan urusan yang mudah. Tak sedikit kendalanya. Misalnya, pada April terjadi permintaan yang mendadak tinggi untuk Jatim dan Jateng, yaitu 75 ribu ton dan 30 ribu ton. Kasus begini jelas memerlukan kesiapan penerapan manajemen darurat.

Kebijakan yang diterapkan selama ini, sebagaimana dinyatakan Dirut Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, pada dasarnya menjaga keseimbangan pasokan. Artinya, sambil memenuhi kebutuhan jagung melalui impor, pihaknya juga meminta peternak menginfokan ketersediaan jagung produksi petani lokal. Djarot menegaskan, pihaknya siap menyerap jagung tersebut. Bila memang sudah tidak ada lagi jagung dari petani kita yang bisa diserap, ya terpaksa kita impor.●(Red)

Share This: