Mop

Tradisi Hoax April Mop—untunglah—tak tumbuh subur. Tradisi melegalkan penipuan dan kebohongan berdalih sekadar hiburan atau keisengan belaka itu dikenal dengan banyak nama. Di Prancis disebut Poisson d’Avril, (ikan April/kecil yang gampang tertangkap atau tertipu?). Di Inggris dikenal dengan istilah April noddie, sebutan buat orang-orang yang tertipu. Di Skotlandia diperingati dua hari yang dinamakan April gowk, dan pada hari kedua dijuluki Taily day

Sama ngawurnya dengan selebrasi Valentine Day, April Mop berakar pada peristiwa getir. Valentine Day mengacu pada pesta Lupercalia masyarakat Romawi kuno, sebagai rangkaian upacara pensucian yang khusus dipersembahkan untuk mengenang Juno Februata, dewi cinta/Queen of Feverish Love dengan cara menyuburkan seks bebas. April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat siasat penipuan, 5 abad silam.

The April’s Fool Day berawal dari episode kelam akhir sejarah Muslim Spanyol di Granada, tahun 1487 M/892 H. Setelah melemahkan iman, melalui serangan pemikiran dan budaya, menghadiahi alkohol dan rokok/shisha secara gratis, lalu iman mereka dilemahkan. Islam pun takluk. Istana Al Hambra jatuh ke pasukan Salib. Mereka membantai pasukan Islam. Mereka juga meghabisi ribuan penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Darah Muslim tumpah di mana-mana.

Melalui tipu daya— dijanjikan Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol—sesampai di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib membakari rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya dan

kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam.

Dalam versi Melayu masa lalu, wujud sebuah dusta April Mop sangat empirik. Yakni tatkala BK mengunjungi Aceh tahun 1948, menemui Daud Beureueh, minta dukungan untuk NKRI. Soekarno menjaminkan jabatannya. Daud Beureueh minta (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden), “Sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.”

Presiden menangis terisak-isak. “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden… kalau tidak dipercaya. Waallahi (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan, waallahi, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya.

Setahun kemudian, Aceh resmi jadi sebuah provinsi, bagian dari NKRI. Namun, pada 1951 dilikuidasi, Aceh disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara. Bagi rakyat Aceh, kesalahan fatal ini tidak pernah termaafkan—mungkin sampai saat ini. Wallahu a’lam bishshawaab.

 

Salam,

Irsyad Muchtar

Share This:

You may also like...