EMPAT PILAR MEMBANGUN KOPERASI KREDIT INDONESIA

Perubahan adalah “HUKUM KEHIDUPAN”. Barang siapa yang hanya melihat masa lalu dan sekarang, dia akan kehilangan masa depan. (John F. Kenedy, 1917 -1963, Presiden AS ke 35).

Abat Elias

Perubahan merupakan ukuran bahwa makluk hidup; orang, organisasi baik perusahaan, koperasi maupun negara masih ada tanda-tanda kehidupan. Jika suatu makluk tidak ada perubahan, bisa jadi mendekati usia unsur atau tanda-tanda kematian. Dalam ilmu manajemen modern juga dikatakan, suatu lembaga atau organisasi dikatakan produktif (efisien dan efektif) tidak hanya melihat hasil akhir (out put) tetapi juga harus dilihat bagaimana tahapan prosesnya (out come).

 

Dari pengantar tersebut dikaitkan dengan perkembangan koperasi di Indonesia yang ditulis oleh Irsyad Muctar dalam bukunya “100 Koperasi Besar Indonesia” (Indonesia’s100 Largest Cooperatives), menunjukan koperasi di Indonesia masih ada tanda-tanda kehidupan. Apakah tanda-tanda kehidupan itu karena memang masih ada koperasi yang sekadar hidup atau ada koperasi yang memang memiliki pertumbuhan dan perkembangan signifikan karena memiliki Visi, Misi dan strategi pengembangan. Dari 100 koperasi besar yang diangkat oleh Irsyad Muchtar, ada 31 Koperasi Kredit (Credit Union) atau 31% dari 100 koperasi besar tersebut. Karenanya tidaklah salah kalau saya memberikan sharing pengalaman kepada pembaca Majalah PELUANG tentang pendekatan yang dilakukan oleh penggerak Koperasi Kredit (Kopdit) di Indonesia dari tahun 1970 sampai saat ini. Pendekatan-pendekatan tersebut dituangkan dalam   empat pilar pengembangan Kopdit. Keempat pilar tersebut adalah;

 

Pilar Pertama, Pendidikan/pelatihan (education/training);

Mengapa pilar pendidik/pelatihan yang diambil? Karena Visi Kopdit meningkatkan harkat hidup anggota atau masyarakat yang nota bene berasal dari masyarakat golongan bawah (grassroots). Dengan diawali pedidikan/pelatihan diharapkan mereka dapat merubah pola pikir dan pola tindak sehingga dapat mengatur ekonomi rumah tangga dengan baik, menggunakan penghasilan/uang dengan bijaksana, mendidik anak dengan hemat dan dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan sesame; khusus hal ini anak-anak orang kopdit dilatih mulai dari kecil untuk menabung dalam Kopdit sebagai anggota luar biasa dan suatu ketika (umur 17 th) mereka menjadi anggota biasa (regular members). Anggota-anggota Kopdit dididik memahami “Financial Literachi” agar dapat mengatur keuangan secara bijaksana agar dikemudian hari bebas dari kesulitan keuangan. Dengan pendidikan mereka juga dapat bekerja secara produktif, tidak hanya bekerja keras tetapi harus bekerja secara cerdas.

Selain anggota, juga diberikan pendidikan di lingkungan manajemen; Pengurus, Pengawas, Staf dan Karyawan harus mengikuti pelatihan dasar-dasar Kopdit, pelatihan kepemimipinan dan pelatihan spesialis sehingga dapat melayani anggota dengan “HATI”. Begitu pentingnya pendidikan/pelatihan dalam lingkungan Kopdit, maka dana pendidikan harus disisihkan dari SHU minimal 20% setiap tahun. Hal itu  dicantumkan pada Anggaran Rumah Tangga setiap Kopdit dan setiap Rapat Anggota Tahunan harus dilaporkan kegiatan pendidikan serta tanggungjawab penggunaan Dana Pendidikan tersebut. Demikian pentingnya pendidikan dalam Kopdit, sehingga motto yang mereka gunakan adalah; Kopdit dimulai dari Pendidikan, dikembangkan lewat pendidikan, dikontrol dan diawasi dengan pendidikan dan tergantung semuanya pada pendidikan.

 

Pilar Kedua, Setia kawan/Solidaritas atau Solidarity;

Pilar ini merupakan wujud nyata dari nilai-nilai kebersamaan dalam koperasi pada umumnya atau bahasa nenek moyang kita adalah Gotong royong. Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing merupakan falsafah nenek moyang orang Indonesia sebelum koperasi masuk ke tanah air. Karena sasaran Kopdit adalah orang-orang kecil, diperlukan kerja sama yang kohesif di antara mereka, untuk menyelesaikan hal-hal yang besar yang tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri diperlukan kebersamaan untuk meringankan.”Kau susah aku bantu, aku susah kau bantu”, demikianlah motto dari orang-orang Kopdit.

Wujud nyata dari pilar kedua ini adalah komitmen anggota untuk mentaati aturan  pengembalian pinjaman dari Kopdit karena uang yang dipinjamkan kepada seorang anggota adalah simpanan anggota lain, yang pada gilirannya nanti mereka juga akan mengajukan pinjaman. Karena itu setiap anggota harus berpikir dan bertindak bahwa anda sudah dibantu oleh anggota lain dan saatnya anda harus membantu anggota lain dengan mengangsur pinjaman dengan teratur sesuai perjanjian. Wujud nyata yang lain adalah solidaritas. Kopdit-Kopdit berjuang bersama membentuk dan merealisasikan Inter-lending baik ruang lingkup Daerah maupun Nasional. Dengan adanya Inter-lending, Kopdit yang masih kecil dan ingin mempercepat pemupukan modal dapat menggunakan pinjaman Inter-lending dari level atasnya.

Wujud solidaritas yang lain yaitu menyetorkan 2% dari SHU suatu kopdit kepada Puskopdit setiap tahun, demikian juga dari Puskopdit ke Inkopdit. Dana Solidaritas ini digunakan hanya untuk membantu dan membina Kopdit yang relatif masih lemah dan kecil pada wilayah/daerah baru dan terpencil. Iuran Solidaritas juga berlaku untuk Regional Asia seperti ACCU di Bangkok maupun ke WOCCU di Medison Amerika Serikat.

 

Pilar ketiga, Kemandirian/Swdaya atau self-reliance;

Pilar ketiga ini merupakan perwujudan dari nilai-nilai koperasi yaitu bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan sesama serta perwujudan dari independence dimana setiap anggota Kopdit harus dapat berdiri sendiri dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri, jangan menjadi beban untuk orang lain, juga jangan tergantung kepada orang lain atau Pemerintah. Karena itu anggota Kopdit harus berusaha memperbaiki kondisi ekonominya dengan kerja keras dan cerdas, tidak jadi benalu bagi orang lain. Dengan demikian akan membangkitkan semangat kemandirian. Kopdit juga diharapkan menggali sumber dana semaksimal mungkin dari dalam (anggota) bukan dari luar (utang), lembaga keuangan lain. Utang dari luar jika pengelolaan belum siap akan jadi beban yang berat sehingga mengganggu kehidupan Kopdit. Sasaran Ideal suatu Kopdit bahwa utang pihak luar mendekati 0%, namun dari inter-lending masih diberi kesempatan 0 s/d 5 % dari total asset Kopdit yang bersangkutan. Kopdit yang masih kecil dan langsung mencari modal dengan pinjaman dari luar biasanya tidak bertahan lama karena hasilnya juga akan dinikmati oleh pihak luar, bahkan bisa terjadi flying out capital. Kopdit yang modal dari dalamnya sudah memiliki akumulasi Dana Cadangan yang cukup besar bermitra dengan lembaga keuangan yang lain dengan Win-win Solution tidak masalah. Misalnya Total asset suatu Kopdit Rp 500 miliar dengan akumulasi Dana Cadangan 10% atau Rp.50 miliar,   maka Kopdit boleh utang dari luar maksimum 5% dari total asset yaitu Rp 25 miliar. Kopdit diharapkan tidak jadi Koperasi Merpati atau koperasi Pedati tetapi jadilah Kopdit Sejati yang berdiri di atas kakinya sendiri, sehingga tidak ada yang ikut campur tangan dalam segala hal.

Agar menjadi Kopdit sejati, pelayanan hanya kepada anggota saja, libatkan sebanyak mungkin masyarakat untuk menjadi anggota; bentuklah diversifikasi keanggotaan (ada yang miskin dan ada yang kaya) sehingga terjadi atau tercipta pelayanan yang “Simbiosis mutualis”, saling melengkapi dan saling membutuhkan dan pada akhirnya saling sinergi di antara anggota yang difasilitasi oleh Kopdit.

 

Pilar keempat, Inovasi tiada henti atau Long life Innovation;

Pilar kesatu sampai pilar ketiga merupakan dasar pendekatan atau strategi Kopdit selama ini, namun karena adanya perubahan Informasi dan Teknologi (IT) yang sangat dasyat saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka Kopdit harus beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Sejak tahun 2000 Kopdit Indonesia kerja sama dengan CU dari Kanada serta jaringan CU di Asia melakukan gerakan perubahan bersama yang diawali pilot proyek, Pelatihan Manager yang diberikan oleh Manager CU dari Kanada sebagai lanjutan kerja sama dengan Dekopin saat itu. Pendidikan Manajer pada Kopdit bukan hal baru, sejak tahun 1996 sudah dimulai oleh CCA Kanada dan dikuatkan oleh program ACCU dari Bangkok yaitu program CUCCC (Credit Union CEO Competency Course) bagi para Manager dan General Manager dan program CUDCC (Credit Union Directors Competency Course) bagi Pengurus dan Pengawas. Tidak hanya inovasi untuk SDM, juga Inovasi dalam pengembangan software IT sejak tahun 1997 dibantu pendanaannya oleh CCA dan dilanjutkan pengembangannya secara mandiri oleh Inkopdit yang dikenal dengan Program Sikopdit (Sistem Informasi Koperasi Kredit). Sikopdit dikembangkan secara bertahap dan dimulai dengan program sangat sederhana (GL= General Ledger) yaitu untuk pembukuan/akunting di tingkatkan menjadi CS dan sekarang sudah mulai program Sikopdit-Online. Mudah-mudahan program Sikopdit-Online dapat diakses oleh seluruh Kopdit di tanah air sehingga memudahkan informasi dan komunikasi dari Inkopdit di Jakarta sampai Kopdit-Kopdit Primer di pedesaan. Demikian sepintas kilas Empat Pilar Gerakan Koperasi Kredit Indonesia, mudah-mudahan jika berkenan kita saling mengisi terutama koperasi-koperasi sejenis yang lain seperti sahabat-sahabat kami dari KSP dan BMT, mari saling berbagi, semoga.

Share This:

You may also like...