Babu

“Indon”. Panggilan itu bisa Anda dengar jika suatu saat melancong ke Malaysia. Jangan  bilang itu sapaan yang ramah, panggilan itu acapkali ditujukan untuk para pekerja kasar kita , tenaga kerja Indonesia (TKI), dengan konotasi negatif. Ada superioritas sebagai bangsa yang lebih unggul dalam sinisme panggilan itu.  Meski tidak kita temui makna harfiah Indon dalam berbagai kamus resmi, namun  sebutan itu di Malaysia identik dengan pekerja bodoh, pendidikan rendah dan menjurus
kriminal.  Seperti halnya diskriminasi warna kulit yang kerap dilakukan oleh kolonialis Barat. Atau seperti Bernard Shaw yang menyentil kaum kulit putih Amerika,  yang  menyamakan negro  dengan sepatu botnya.
Di negeri dengan ekonomi  berbasis teknologi tinggi, pengetahuan dan industri padat modal,  seperti Malaysia, tenaga kerja kualitas murah memang  dibutuhkan. Karena sulit mencari warga yang maubekerja di ladang atau sebagai pembantu rumah tangga.  Maka tak heran, jika arus TKI mengalir deras  memasuki Malaysia tanpa persyaratan kerja yang ketat. Bahwa kemudian berlangsung pelecehan dan penghinaan atas nama sebuah bangsa, agaknya bukan soal penting  bagi para pencari kerja kita. Gemerincing ringgit di negeri dengan income per kapit US$ 15.000 per tahun itu jauh lebih memukau ketimbang perlakuan buruk  yang mereka terima dari para majikan.

kain pel

Tanpa bekal pendidikan yang terampil, nasib TKI  di negeri orang memang tak lebih dari sekadar babu. Sebuah panggilan yang dianggap biasa  untuk  pekerja rumah tangga dimasa awal kemerdekaan.  Ketika panggilan yang menghinakan itu diredusir dengan sebutan ‘bibi’ atau Pembantu Rumah Tangga, toh tidak serta merta  mengangkat harkat dan martabat pekerja kelas
bawah itu. Tidak ada yang bangga dengan predikat negara pengekspor buruh murah  itu.  Celakanya, pengelola negeri ini juga tak mampu berbuat apa-apa, selain imbauan moratorium yang berulang-ulang. Di balik imbauan formal itu perusahaan pengerah tenaga kerja tetap saja melenggang mengirim anak perempuan kita terutama ke Timur Tengah.   Perlakuan buruk terhadap TKI kita, bukan melulu terjadi di negeri  tujuan.   Sejak mulai berangkat dari tanah air, mereka sudah menjelma jadi komoditi perdagangan yang mahal. Tidak jarang  mereka berkorban di luar nalar sehat, menggadaikan rumah dan sawah. Bahkan rela meninggalkan anak dan suami demi untuk penghidupan yang lebih baik. Jumlah mereka terus bertambah hingga mencapai 6,5 juta orang pada 2013, lantaran lapangan kerja di dalam negeri yang terus menciut. Dari tetes keringat, air mata dan darah TKI mengalir devisa yang  mencapai Rp 80 triliun  per tahun.  Sebuah nilai yang cukup dibayar dengan predikat pahlawan devisa.  Tetapi bagaimana perlakuan kita terhadap pahlawan devisa itu. Mereka tetap saja warga pinggiran yang
tidak mendapat tempat. Di Bandara Soekarno-Hatta, mereka bergerombol tak berani menatap orang lain, inferior. Padahal mereka membayar tiket dengan harga yang sama (bahkan lebih mahal) dengan penumpang lainnya.

Saat kembali ke tanah air, mereka jadi sasaran pemerasan berbagai oknum. Mulai dari  petugas bandara, perusahaan pengerah
tenaga kerja hingga aparat Kementerian Tenaga Kerja. TKI , Babu, Indon, entah  nomenklatur apalagi, adalah satu bagian dari ketidakpedulian terhadap aset bangsa ini. Adakah harapan Soekarno jadi kenyataan, ketika pada 1930 ia menuntut agar dalam
pergaulan antara bangsa, janganada lagi ‘bangsa koeli dan koeli di antara bangsa-bangsa,  een natie van koelies, en een koeli onder de naties.

Share This:

Next Post

Antara Kebijakan dan Kebutuhan Energi Nasional

Sab Jun 6 , 2015
Dalam Blueprint Pengelolaan Energi Nasional disebutkan, setelah tahun 2007,pemerintah Indonesia tidak akan memberikan subsidi pada semua jenis bahan bakar minyak, termasuk minyak tanah, solar dan premium.   PERMASALAHAN energi di Indonesia sangat kompleks dan sarat muatan politis, sehingga perlu penanganan serius, cermat dan penuhkehati-hatian. Permasalahan energiini juga terkait dengan perluasan […]

Berita lainnya