1.500 Hotel & 150.000 Karyawan Ditekuk Corona

Diperkirakan, lebih dari 150.000 pekerja dirumahkan. Status pekerja yang dirumahkan tidak berarti di-PHK. Tidak dibayar tapi tetap dikontrak. Status mereka seperti cuti di akhir tahun. Kalau di-PHK, uang pesangonnya dari mana?

KONDISI hotel dan restauran di Indonesia kian mengkhawatirkan. Penutupan terjadi merata, dari Aceh hingga Papua. Teranyar, 26 Maret, Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) merilis 1.504 hotel tutup sementara akibat wabah virus corona. Jumlah tersebut masih bisa lebih banyak karena tidak semua hotel menyampaikan data.

Provinsi paling terdampak adalah Jawa Barat, yakni mencapai 475 hotel. Di Kota Bandung ada 126 hotel tutup, Kabupaten di Bogor (65 hotel), Kota Bogor (40 hotel). Provinsi kedua adalah Bali (282 hotel), di Kabupaten Buleleng (89 hotel), Kabupaten Badung (88 hotel), Kota Denpasar (33 hotel). Posisi ketiga ditempati Jawa Timur (136 hotel), lalu DKI Jakarta (100 hotel) dan DIY Yogyakarta (98 hotel).

Di antaranya terdapat hotel kenamaan atau besar. Misalnya di Yogyakarta ada Hotel Santika Premiere, Hotel Neo Malioboro by Aston, Artotel. Di Jakarta, tercatat Aryaduta, Mercure Convention Centre Ancol, Grand Sahid Jaya. Wakil Ketua Umum PHRI, Maulana Yusran, menyebut “Okupansi drastis menurun tinggal 9 persen. Ini berlangsung cukup panjang. Nggak jelas sampe kapan selesai,” ujarnya.

Konsumen terbesar bagi hotel adalah tamu domestik yang sebagian besar menginap untuk kepentingan bisnis. Jumlah keseluruhan tamu domestik ini mencapai 300 juta kunjungan. Dengan adanya virus corona, perjalanan-perjalanan dinas pun dihentikan untuk sementara.

Hotel sulit menanggung biaya operasional tanpa ada pemasukan. Sejumlah hotel merumahkan karyawannya. Kebanyakan melakukan unchecklist. Diperkirakan, lebih dari 150.000 pekerja dirumahkan. Status mereka bukan kena PHK, melainkan tidak dibayar tapi tetap dikontrak. “Kalau di-PHK-kan, uang pesangon dari mana?” kata Hariyadi. Penutupan hotel-hotel ini tentu saja berdampak juga pada keterisian restoran. “Yang sekarang restoran buka terbatas sekali karena mereka masih melayani order online. Kalau yang pelanggannya enggak banyak enggak bertahan,” ujarnya.

Untuk bertahan, hotel-hotel ternama di Bali  menawarkan promo besar-besaran. Yakni sewa kamar murah dengan masa inap hingga 30 hari. Misalnya, Lv8 Resort Hotel Canggu, menyediakan paket menginap dengan harga mulai Rp8 juta/bulan. Tamu akan diberi potongan harga 20 persen untuk makanan dan minuman di restoran hotel serta bebas mengakses fasilitas gym dan kolam renang.

Insan PHRI DKI Jakarta ini sesungguhnya prihatin sekaligus gemas, karena bulan Januari-Februari dilanda bencana banjir. Maret-April yang harusnya bulan bagus untuk perhotelan, target kita bisa take off, tapi dengan kejadian ini praktis lebih parah. Sejak Januari, beberapa hotel sudah merumahkan karyawannya. Maret dan April makin menjadi-jadi.

Skenario terburuk di Jakarta ‘hanya’ sampai PHK. Di Bali bahkan sudah banyak pemilik hotel yang akhirnya siap menjual properti mereka. Okupansi hotel-hotel di Jakarta semakin menurun. Tamu hotel yang kini ada kebanyakan hanya tamu yang ‘terjebak’ karena tak bisa pulang ke rumah atau negaranya. “Pekerja kita yang sekarang dirumahkan itu kan yang berbondong-bondong ingin pulang ke kampung halaman masing-masing, karena mengkin mereka tahu tidak ada harapan lagi (bertahan hidup) di Jakarta,” ujar Hariyadi.

Sebagai langkah jalan keluar, pihak PHRI telah mendiskusikan hal ini dengan kementerian terkait dan Pemerintah Daerah. Harapan yang diutarakan, selain insentif buat para pekerja, keringanan PPh 21, keringanan iuran BPJS, dan penundaan pembayaran PBB yang jatuh tempo pada bulan Agustus pun bisa pula terealisasi dengan cepat. Semoga wabah virus ganas yang berasal dari Wuhan ini segera selesai.●

Share This:

You may also like...